Wednesday, April 18, 2012

HUKUM MEMBICARAKAN AIB ORANG (GHIBAH)

Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menunjuki jalan pada bersihnya hati. Sungguh beruntung orang yang mau mensucikan hatinya. Sungguh merugi orang yang mengotori hatinya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Mengapa diri ini selalu menyibukkan diri dengan membicarakan aib orang lain, sedangkan ‘aib besar yang ada di depan mata tidak diperhatikan. Akhirnya diri ini pun sibuk menggunjing, membicarakan ‘aib saudaranya padahal ia tidak suka dibicarakan. Jika dibanding-bandingkan diri kita dan orang yang digunjing, boleh jadi dia lebih mulia di sisi Allah. Demikianlah hati ini seringkali tersibukkan dengan hal yang sia-sia. Semut di seberang lautan seakan nampak, namun gajah di pelupuk mata seakan-akan tak nampak, artinya aib yang ada di diri kita sendiri jarang kita perhatikan. Aibmu Sendiri yang Lebih Seharusnya Engkau Perhatikan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, يبصر أحدكم القذاة في أعين أخيه، وينسى الجذل- أو الجذع – في عين نفسه “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” [Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak, pen]. Wejangan Abu Hurairah ini amat bagus. Yang seharusnya kita pikirkan adalah ‘aib kita sendiri yang begitu banyak. Tidak perlu kita bercapek-capek memikirkan ‘aib orang lain, atau bahkan menceritakan ‘aib saudara kita di hadapan orang lain. ‘Aib kita, kitalah yang lebih tahu. Adapun ‘aib orang lain, sungguh kita tidak mengetahui seluk beluk hati mereka. Anggap Diri Kita Lebih Rendah Dari Orang Lain ‘Abdullah Al Muzani mengatakan, إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك. “Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” Mengapa Sibuk Membicarakan ‘Aib Orang Lain? Jika kita memperhatikan nasehat-nasehat di atas, maka sungguh kita pasti tak akan ingin menggunjing orang lain karena ‘aib kita sendiri terlalu banyak. Itulah yang kita tahu. Menceritakan ‘aib orang lain tanpa ada hajat sama sekali, inilah yang disebut dengan ghibah. Karena ghibah artinya membicarakan ‘aib orang lain sedangkan ia tidak ada di saat pembicaraan. ‘Aib yang dibicarakan tersebut, ia tidak suka diketahui oleh orang lain. Keterangan tentang ghibah dijelaskan dalam hadits berikut, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” Ghibah dan menfitnah (menuduh tanpa bukti) sama dua keharaman. Namun untuk ghibah dibolehkan jika ada tujuan yang syar’i yaitu dibolehkan dalam enam keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah. Enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut: Mengadu tindak kezholiman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzholimiku.” Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat mungkar tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.” Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzholimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezholiman yang ia lakukan.” Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits. Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya. Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. Adapun dosa ghibah dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12) Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Ghibah diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan para ulama). Dan tidak ada pengecualian dalam hal ini kecuali jika benar-benar jelas maslahatnya.” Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Allah Ta’ala memisalkan ghibah (menggunjing orang lain) dengan memakan bangkai seseorang. Karena bangkai sama sekali tidak tahu siapa yang memakan dagingnya. Ini sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak mengetahui siapa yang menggunjing dirinya. Demikianlah keterangan dari Az Zujaj.” Asy Syaukani rahimahullah kembali menjelaskan, “Dalam ayat di atas terkandung isyarat bahwa kehormatan manusia itu sebagaimana dagingnya. Jika daging manusia saja diharamkan untuk dimakan, begitu pula dengan kehormatannya dilarang untuk dilanggar. Ayat ini menjelaskan agar seseorang menjauhi perbuatan ghibah. Ayat ini menjelaskan bahwa ghibah adalah perbuatan yang teramat jelek. Begitu tercelanya pula orang yang melakukan ghibah.” Jika kita sudah tahu demikian tercelanya membicarakan ‘aib saudara kita –tanpa ada maslahat-, maka sudah semestinya kita menjauhkan diri dari perbuatan tersebut. ‘Aib kita sebenarnya lebih banyak karena itulah yang kita ketahui. Dibanding ‘aib orang lain, sungguh kita tidak mengetahui seluk beluk dirinya. Nasehat ini adalah nasehat untuk diri sendiri karena asalnya nasehat adalah memang demikian. Ya Allah, tunjukkanlah pada kami jalan untuk selalu memperbaiki jiwa ini. Amin Yaa Samii’um Mujiib.

Tuesday, April 17, 2012

DIET RASULULLAH

Selalu kita dengar orang berusaha untuk diet sehinggakan memudaratkan diri sendiri seperti masalah anoreksia nervosa dan bulimia. Anoreksia nervosa adalah sejenis penyakit yang berpunca daripada amalan diet yang melampau. Dalam kata yang lebih tepat, anoreksia adalah aktiviti menguruskan badan dengan melakukan pembatasan makan secara sengaja dan melalui kawalan yang ketat. Manakala bulimia pula adalah penyakit memuntahkan makanan sebaik saja hendak mula menelan. Kedua-duanya berpunca daripada matlamat ingin mendapatkan bentuk tubuh badan yang langsing, sangat sinonim dikaitkan dengan golongan wanita. Sebaik-baik contoh adalah Rasulullah s.a.w. Dalam soal diet, Rasulullah s.a.w. telah tunjukkan kepada kita cara pemakanan yang betul melalui beberapa hadis sahih. Bukan saja dapat membentuk tubuh badan yang ideal seperti Baginda Rasulullah s.a.w., malah dapat menjaga tahap kesihatan badan kita. Pakar kesihatan mengatakan kebanyakan penyakit berpunca dari perut. Jadi dengan menjaga perut bermakna kita menjaga kesihatan badan keseluruhannya. Sebelum kita kepada amalan diet Rasulullah s.a.w., kita teliti dulu beberapa hadis sahih tentang makan dan minum Baginda Rasulullah s.a.w. seperti berikut: Ka’ab bin Malik berkata: Rasulullah menjilat jari-jari Baginda tiga kali sesudah makan (Direkodkan oleh Tirmizi dan Muslim). Abu Juhaifah berkata: Rasulullah berkata, “Aku tidak makan sambil bersandar.” (Direkodkan oleh Tirmizi, Bukhari, Abu Dawud dan Ibu Majah). Aisyah berkata: Keluarga Rasulullah tidak pernah memakan roti gandung sehingga kenyang selama dua hari berturut-turut, sehingga Baginda wafat (Direkodkan oleh Tirmizi, Muslim dan Ibnu Majah). Aisyah berkata: Rasulullah berkata, “Sebaik-baik lauk adalah cuka.” (Direkodkan oleh Tirmizi, Muslim dan Ibnu Majah). Aisyah berkata: Rasulullah menyukai manisan dan madu (Direkodkan oleh Tirmizi, Bukhari, Muslim dan Abu Dawud). Aisyah berkata: Rasulullah pernah memakan buah tembikai dengan kurma yang baru masak (Direkodkan oleh Tirmizi dan Nasa’i). Ibnu Abbas berkata: Aku menuangkan air zam zam untuk Rasulullah, Baginda minum sambil berdiri (Direkodkan oleh Tirmizi, Bukhari dan Muslim). Anas bin Malik berkata: Rasulullah menarik nafas sebanyak tiga kali di luar bekas minumannya emasa minum. Baginda berkata, “Cara ini lebih menyihatkan dan memuaskan.” (Direkodkan oleh Tirmizi, Muslim dan Abu Dawud). Menjilat jari sesudah makan seperti yang diamalkan Rasulullah s.a.w. ada kebaikannya. Saintis yang membuat kajian berkenaan dengan perkara ini mengatakan bahawa amalan menjilat jari selepas makan boleh mempercepatkan proses penghadaman memandangkan di celah-celah jari terdapat 10 kali ganda lebih banyak enzim berbanding lidah. Sesiapa yang menghidapi masalah berat badan berlebihan boleh cuba amalkan cara Rasulullah ni. Makanan yang cepat hadam secara logiknya tidak akan menyebabkan kita menghidapi masalah lebihan berat badan. Ini juga bermakna makan dengan menggunakan tangan adalah jauh lebih baik daripada menggunakan sudu dan garpu. Dan sebagai tambahan, tangan yang menyuap makanan ke dalam mulut mestilah tangan kanan, kerana tangan kiri adalah suapan yang disertakan bersama dengan syaitan. Rasulullah juga sukakan manisan dan madu. Untuk maklumat, madu yang terbaik dan paling berkualiti adalah madu sidr daripada pokok sidr yang lazimnya terdapat di negara Yaman. Apa istimewanya? Silakan Google Rasulullah s.a.w. juga mempunyai beberapa larangan ketika makan. Antaranya ialah: Elakkan makan IKAN bersama SUSU Elakkan makan IKAN bersama DAUN SALAD/KOBIS Elakkan makan SUSU bersama CUKA Elakkan makan CUKA bersama IKAN Elakkan makan BAWANG PUTIH bersama BAWANG MERAH Elakkan makan BUAH bersama SUSU (Contoh : KOKTEL) Sumber ini adalah petikan daripada buku Cara Makan RAsullulah s.a.w. tulisan Prof. Dr Abdul Basith Muhammad As-Sayyid. Kredit kepada Encik Sedap. Sebagai tambahan, jangan makan buah selepas selesai makan nasi. Seelok-eloknya makanlah buah sebelum menjamah nasi. Menurut info yang saya dapat melalui blog Lubuk Petua Warisan pula ada mengatakan jangan sesekali tidak mengambil hidangan malam kerana sesiapa yang tidak makan malam akan dimakan usia dan kolesterol dalam badan akan berganda. Kita juga ditegah untuk makan makanan darat dan laut dalam satu hidangan serentak, contohnya ayam dan ikan. Dikatakan oleh ilmuwan bahawa dalam daging ayam mengandungi ion positif makanala dalam ikan pula mengandungi ion negatif. Percampuran dua ion yang berlawanan ini boleh merosakkan usus kita. Orang Yahudi mengamalkan cara pemakanan sebegini, mengikut cara Rasulullah s.a.w. Dikatakan orang Yahudi tidak akan menghidangkan lauk ayam jika ikan sudah ada di atas meja, begitu juga sebaliknya. Malu kita sebagai umat Rasulullah s.a.w. sendiri kalau tak mengikut apa yang Rasulullah ajarkan. Diharap sedikit sebanyak informasi yang ada ini dapat mengubah diet anda bagi sesiapa yang dalam proses untuk menurunkan berat badan. Rasulullah telah tunjukkan cara, selebihnya bergantung kepada kita untuk mengamalkannya. Apa yang paling penting, berhenti makan sebelum kenyang sebagaimana yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah s.a.w. Banyak kelebihannya selain daripada mengelakkan daripada peningkatan berat badan berlebihan. Selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Salam Maulidur Rasul 1433 Hijrah. #MaulidurRasul

Monday, April 16, 2012

Yang bertudung Bukan Pilihan, Yang Menutup Aurat Jadi Idaman

Bismillahirahmanirahim " Aku tak nak kahwin dengan perempuan yang bertudung !" " Haa? Kenapa?" " Aku nak kahwin dengan wanita yang tutup aurat." Alhamdulillah. Tersenyum hati mendengar jawapan yang serius itu. Tentunya jejaka tersebut seorang yang sangat menjaga diri dan kehidupannya. Pasti dia bukan calang-calang lelaki. Bayangkanlah, pasangan hidup yang dipilih bukan sekadar bertudung tetapi lengkap menutup aurat. Dalam erti kata lain, dia sedar bahawa urusan perkahwinan bukanlah perkara yang remeh. Hanya insan yang mentaati Allah dan RasulNya sahaja yang terpaut di hati untuk dijadikan permaisuri dalam istana rumah tangga. Lihatlah di sekeliling kita. Apa yang berlaku dalam masyarakat Islam hari ini? Berapa ramai wanita yang bertudung? Pasti boleh dibilang dengan jari bukan? Tidak ramai. Yang bertudung pula, tidak semua menutup aurat dengan sempurna. Buktinya? Kita boleh lihat dengan mata kepala kita sendiri. Mereka bertudung tetapi tidak labuh hingga menutupi dada. Pakaian pula ketat, singkat, tipis, malah ada yang berlengan pendek. Jelasnya, mereka hanya bertudung namun dalam masa yang sama tetap mendedahkan aurat. Hayati kembali perintah Allah ini; ا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka melabuhkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,maka mereka tidak akan diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [33:59] Faktor inilah yang menyebabkan lelaki-lelaki yang beriman sangat memilih dalam soal pemilihan calon isteri. Bagi mukmin yang betul-betul hidup kerana Allah, dia pasti akan berfikir lima enam kali sekiranya diminta untuk memilih wanita yang 'bertudung tapi mendedahkan aurat'. Kemungkinan besar, permintaan wanita itu akan ditolak atau tidak dilayan. Bagaimana pula dengan wanita yang langsung tidak bertudung ? Di mana mereka di hati orang mukmin? Adakah mereka akan menjadi pilihan hati lelaki-lelaki yang bertaqwa? Sudah pasti tidak! Sedangkan yang bertudungpun masih diragukan dan ditolak ke tepi, apatah lagi yang langsung tidak bertudung? Pasti akan dibuang sejauh-jauhnya. " Cerewet sungguh orang-orang mukmin!" Ya.. memang cerewet ! hehee.. Pernah membeli makanan di kedai kuih? Mana satu yang menjadi pilihan, kuih yang dibungkus penuh, atau kuih yang dibungkus separuh? Atau yang langsung tidak berbungkus? Saya yakin kita akan memilih yang berbungkus penuh kerana keadaannya dijamin lebih baik dan bersih. Begitulah juga dengan orang-orang mukmin. Mereka memang sangat memilih dalam hal ini. Bukan apa, kehidupan berumah tangga diwujudkan semata-mata untuk beroleh rahmat daripada Allah agar bahagia di dunia dan di akihirat. Andai tersalah pilih atau memilih mengikut nafsu, maka akan hilanglah bahagia dikemudian hari. Lagipun Rasulullah SAW pernah berpesan kepada kita semua ; "Wanita dinikahi kerana empat perkara; kerana hartanya, kerana kedudukannya/ keturunannya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya. Maka, pilihlah yang baik agamanya nescaya engkau beruntung." [Riwayat Bukhari dan Muslim] Rasulullah SAW ketika di tanya oleh para sahabat mengenai ciri wanita pilihan yang diperlukan oleh suami, Rasulullah menjawab, " Wanita yang menyenangkannya ketika dilihat. Wanita yang mentaatinya ketika disuruh, wanita yang tidak mengkhianatinya (tidak curang), dan wanita yang tidak mengkhianati hartanya pada perkara yang dibenci." [Riwayat Abu Daud dan Nasai] Wanita yang bertudung tetapi masih mendedahkan aurat dikhalayak ramai merupakan wanita yang tidak serius menjalankan ketaatan kepada Allah. Wanita sebegini tidak mengamalkan ajaran Islam secara keseluruhan. Lantas bagaimana hendak dipilih menjadi calon isteri? Cuba fikirkan sejenak.. Sedangkan perintah Allah SWT sanggup diabaikan inikan pula kita sebagai manusia biasa? Sudah pasti dengan mudah akan diingkari bukan? Pada masa itu, jangan hairan sekiranya kebahagiaan itu beransur-ansur hilang. Semuanya atas pilihan kita juga. " Tapi jodoh sudah ditentukan! Kalau dia ditakdirkan untuk berkahwin dengan orang yang tidak menutup aurat secara sempurna, apa boleh buat.. memilih-milihpun tiada guna." Ya.. Jodoh memang sudah ditentukan oleh Allah. Allah sahajalah yang layak menyatukan hati-hati insan kerana hanya Dia yang mengetahui perihal hati. Kita jangan lupa bahawa jodoh atau ketetapan itu dijalankan dengan penuh keadilan oleh Allah SWT. Allah sesekali tidak akan menzalimi hambaNya. Allah tidak akan pernah mengecewakan hambaNya. Lelaki baik yang beriman pasti akan berkahwin dengan perempuan baik yang beriman. Sebaliknya, lelaki yang tidak beriman akan berkahwin dengan perempuan yang tidak beriman juga. Demikianlah perempuan yang tidak mentaati Allah dengan menjalankan Islam secara sepenuhnya akan berkahwin dengan lelaki yang berperwatakan sepertinya. Itu janji Allah! الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk lelaki-lelaki yang keji, dan lelaki-lelaki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk lelaki-lelaki yang baik dan lelaki-lelaki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). [24:26] Maka, sebagai wanita.. Periksalah diri anda.. Tutuplah aurat dengan sempurna. Bersungguh-sungguhlah mentaati Allah dan RasulNya. Usahlah terlalu sibuk memikirkan siapa yang bakal menjadi pasangan hidup kita, sehingga lupa untuk sibuk memikirkan siapa diri kita di sisi Allah.. Kerana sikap diri kita hari ini menentukan sikap pasangan kita kemudian hari.

Sunday, April 15, 2012

PERNIKAHAN SEBAGAI SATU IBADAH

Amal ibadah bukan sekadar melaksanakan rukun Islam sahaja. Perkahwinan juga merupakan suatu ibadah kepada-Nya. Nafsu syahwat atau naluri seks adalah suatu naluri semulajadi di dalam diri manusia, sama dengan nafsu makan dan minum. Sebab itu ia tidak perlu dibuang atau dihapuskan tetapi hanya perlu dipimpin dan disalurkan dengan sebaiknya. Perkahwinan adalah suatu peraturan untuk mengatur nafsu kelamin di kalangan manusia. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud. “Sesiapa yang berkahwin sesungguhnya di telah memelihara sebahagian daripada agamanya.” Hukum berkahwin terbahagi kepada empat iaitu wajib, haram, sunat dan makruh. Wajib ialah apabila seseorang itu berkemampuan fizikal dan mental serta bimbang jika dirinya akan terjerumus ke lembah maksiat dengan melakukan zina. Ia bertepatan dengan sabda baginda Rasulullah, “Wahai sekalian pemuda, sesiapa di antara kamu yang sanggup berkahwin, maka hendaklah dia berkahwin, maka sesungguhnya kahwin itu menghalang pandagan yang haram dan memelihara kemaluan. Maka sesiapa yang tidak sanggup berbuat demikian hendaklah dia berpuasa kerana puasa itu adalah perisai baginya.” Hukum sunat apabila seseorang yang mempunyai kemampuan dan kesanggupan dan sanggup pula memelihara diri daripada melakukan perbuatan yang dilarang Allah. Islam melarang orang yang sengaja hidup membujang. Sabda baginda lagi, “Kahwinilah olehmu wanita yang bersifat penyayang dan subur maka sesungguhnya pada hari Kiamat kelak aku bermegah-megah dengan banyaknya bilangan kamu (umatnya).” Hukum makruh pula aabila seseorang yang tidak mampu dari segi zahir dan batin. Manakala menjadi haram apabila seseorang yang mempunyai kemampuan untuk berkahwin tetapi akan menimbulkan bahaya kepada bakal isterinya seperti seorang lelaki yang berkahwin dengan tujuan untuk menyakiti bakal isterinya. Maka perkahwinan itu hukumnya haram. Sumber: Muslimah, Bil. 228, Safar – Rabiul Awal 1432

Friday, April 13, 2012

KEBERKATAN DAN KELEBIHAN HARI JUMAAT

Ada satu musim yang Allah swt meletakkan segala kebaikan untuk setahun kepadanya.Ia adalah hari Jumaat.Sabda Nabi Muhammad saw "sebaik-baik terbit matahari adalah Jumaat".Hari Jumaat telah dikhaskan kepada kita.Allah swt penuhkannya dengan kebaikan. Nabi Muhammad saw bersabda "Barangsiapa yang mandi, keluar awal berjalan kaki dan tidak menunggang, kemudian menghampiri imam dan mendengar khutbah, maka setiap langkahnya dikurniakan ganjaran berpuasa dan bersolat selama setahun". Begitulah yang boleh disimpulkan tentang ketika dan adab-adab yang boleh diamalkan pada hari jumaat: PERTAMA: Adab bersedia menyambut hari Jumaat 1.Mandi 2.Memakai pakaian terbaik dan sunat berwarna putih 3.Memakai wangi-wangian 4.Memotong kuku dan mengunting bulu yang dibolehkan 5.Melumurkan badan dengan minyak,losen atau krim Jika lima adab ini diamalkan, maka kita telah mengamalkan sunnah hari Jumaat KEDUA:Adab keluar masjid 1.Berjalan ke masjid selagi mampu dan berdekatan juga boleh memandu kenderaan kemudian berjalan dari kereta ke masjid 2.Masuk ke masjid awal sebelum imam berada di mimbar 3.Menunaikan solat tahayyatul masjid (walaupn khatib telah naik ke mimbar dan berkhutbah) 4.Mendekati imam (berada di saf paling hadapan) 5.Memberi perhatian tehadap khutbah yang disampaikan KETIGA:Adab pada hari Jumaat dan malamnya 1.Membaca surah al Kahfi 2.Memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad saw 3.Banyakkan berdoa kerana di hari Jumaat ada waktu yang doa sangat mustajab.Sabda Nabi s.a.w; “Pada hari Jumaat itu , ada satu waktu yang apabila seseorang hamba memohon sesuatu kepada Allah , maka akan diberikannya .” (HR Bukhari & Muslim)

Wednesday, April 11, 2012

Detik detik Rasulullah S.A.W. Dijemput Sakaratul Maut

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah; “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat Penghantar Wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat rasa maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan-akan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya, “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku” – “Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan, “Ummatii, ummatii, ummatiii” – “Umatku, umatku, umatku…” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma solli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi… Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Friday, April 6, 2012

TAHAJJUDMU. DI MANAKAH IA...?

Pernahkah kalian, wahai saudara dan saudariku di sana : Hanya kerana ingin menunaikan solat tahajjud yang menjadi syariat Rabbaniah (sudah ditetapkan hukumnya oleh Allah SWT) sebagai sunnah Nabawiah (sunnah yang telah ditetapkan hukumnya oleh Nabi Muhammad S.A.W) ??? - Berdoa kepada Allah - Tidur awal (segera tidur selepas menunaikan solat isyak) - Meminta bantuan rakan untuk kejut bangun malam - Bersungguh-sungguh berniat untuk bangun (kerana teramat rindukan Allah dan ingin memabukkan diri dengan cintaNya) - Meninggalkan SEGALA dosa dan maksiat supaya ia tidak menjadi penghalang kepada kamu untuk bangun dan segera sujud di hadapanNya Ketahuilah wahai saudara dan saudariku yang dicintai kerana Allah : seseorang pernah bertanya kepada Hasan Al-Basri, bahawasanya dia enggan memaafkan orang yang pernah bersala, sehingga tidak dapat bangun solat lail (malam), walaupun dia bersungguh-sungguh berusaha untuk bangun. Hasan Al-Basri kemudian menjawab : "Dosa yang telah kamu lakukan telah melilit tubuhmu." (Ruhbanul lail) Kesimpulannya saudara dan saudari, tinggalkanlah maksiat! tinggalkanlah maksiat! tinggalkanlah maksiat! Supaya dipermudahkan Ya Waliyu (Yang Maha Menguasai Urusan) untuk kalian bangun malam dan terus sujud padaNya yang sememangnya layak disembah. dicadangkan untuk saudara dan saudari, contohilah cara tidur kekasih agung Allah, Nabi Muhammad S.A.W., di mana nabi tidur miring ke kanan sambil berzikir memuji Allah sehingga tertidur. InshaAllah, Allah akan membangunkan hambaNya yang ikhlas yang benar-benar mahukan cintaNya. saudara dan saudariku, pada mulanya memang susah, tapi lama-lama mesti boleh bangun sendiri tanpa dikejutkan. Sesungguhnya, alah bisa, tegal biasa. Menurut Ibnul Qayyim, beliau menerangkan fadilat tidur miring ke kanan yang disyariatkan oleh Nabi Muhammad seperti berikut : " Tidur dengan miring ke kanan mengandungi hikmah yang amat bermakna bagi setiap orang yang sering bangun untuk Qiamullail. Menurut ilmu perubatan yang sudah diketahui, bahawasanya hati manusia berada di sebelah kirinya. Sehingga apabila dia tidur miring ke arah sisi kirinya, dia akan tidur nyenyak kerana hatinya telah mendapat rehat yang secukupnya. Apabila seseorang itu tidur dengan memiringkan tubuhnya ke kanan, fikirannya menjadi aktif sehingga dia tidak dapat tidur dengan nyenyak. dia akan berusaha miring ke arah kiri. dengan alasan inilah para doktor menyarankan agar tidur di sebelah kiri sehingga rehatnya sempurna. Itulah sebabnya Nabi Muhammad S.A.W memberi contoh, sebaiknya tidur dengan miring ke kanan, agar tidur orang mukmin itu tidak terlalu nyenyak sehingga dia melupakan solat malam. " (Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad) Perkara ini wahai murabbi dan murabbiahku, disokong lagi dengan sabda Nabi Muhammad S.A.W yang diriwayatkan daripada Barra' bin Azib r.a yang bermaksud: "Jika kamu pergi ke tempat pembaringanmu, hendaklah kamu berwudhuk seperti wudhuknya orang solat. Kemudian berbaring ke sisi kananmu." (Muttafaqun alaih) Kesimpulannya, fokuslah kalian akan matlamat yang ingin dicapai dengan hati yang bersih (tidak hitam dari kesan coretan dosa-dosamu).

Saturday, March 31, 2012

MASALAH BELANJA KAHWIN MAHAL

Assalamualaikum, InsyaAllah saya bakal melangsungkan perkahwinan di akhir tahun namun saya berada dalam situasi tertekan kerana masalah adat dalam perkahwinan yang melibatkan kewangan. Alhamdulillah pada mulanya berjalan lancar dan apabila kedua keluarga kami bertemu kami bersetuju untuk mengenepikan adat dan mahu melangsungkan majlis secara ala kadar berlandaskan Islam. Pihak perempuan mencadangkan bahawa kami mengantikan wang hantaran dengan perhiasan untuk bakal isteri saya yang mana mampu. Namun setelah membeli didapati bahawa nilai barang perhiasan yang pihak perempuan jangkakan adalah lebih dari apa yang saya sangka dan mampu. Ini mungkin ini salah faham dari pihak saya dan keluarga. Dalam jangka masa yang singkat ini saya amat terdesak untuk mencari wang dan jalan yang paling ringkas ialah dengan meminjam dari bank. pun begitu saya faham bahawa adalah haram jika meminjam untuk membeli emas. Bagaimana pula dengan hukum wang hantaran lebih-lebih lagi jika wang hantaran adalah sumber pinjaman dari bank? Saya juga khuatir wang hantaran lebih kepada menunjuk-nunjuk dan akhirnya tidak diberkati majlis saya nanti. Oleh kerana perkahwinan adalah untuk memulakan hidup baru saya amat berhati-hati lebih-lebih lagi kerana takutkan riba. diharap uzar dapat memberikan pendapat. Pemuda ingin tahu..??? JAWAPAN Alhamdulillah dan tahniah atas perkahwinan yang bakal berlangsung, semoga dipermudahkan oleh Allah. Berikut adalah respon saya terhadap beberapa soalan yang diajukan:- 1. Memang benar, perkahwinan tanpa melibatkan mas kahwin dan hantaran yang terlalu tinggi adalah lebih baik dan mudah mendapat keberkatan berbanding yang mahal kerana itu bakal meyukarkan pihak kurang berkemampuan, menyukarkan perkahwinan yang diperlukan untuk menghalalkan hubungan pasangan yang memerlukan, mudah dihinggapi penyakit riya’ dan menunjuk-nunjuk kekayaan. Walaupun nilai hantaran dan mas kahwin yang mahal itu diharuskan oleh hukum Islam, namun iu bukanlah suatu yang terbaik. Dinyatakan bahawa Nabi s.a.w bersabda : إن أعظم النساء بركة أصبحهن وجوها وأقلهن مهرا Ertinya : Sesungguhnya wanita-wanita yang paling diberkati dan menjadi keutamaan adalah yang paling rendah mas kahwinnya ( Riwayat Ibn Hibban) Dalam sebuah hadis lain : خَيْرُكُنَّ أَيْسَرُكُنَّ صَدَاقًا Ertinya : Sebaik-baik kamu adalah yang paling mudah mas kahwinnya (Hadis Marfu’ riwayat At-Tabrani, namun lemah pada sanadnya) Juga hadis yang lain berbunyi : إن أعظم النساء بركة أيسرهن صداقا Maksudnya; “Wanita-wanita yang paling diberkati dikalangan umatku adalah yang paling rendah mas kahwinnya” (Riwayat Ahmad, namun lemah pada sanadnya) Memang kelihatan hadis-hadis di atas menyebut perihal mas kahwin, namun dalam konteks Malaysia yang mempunyai adat memisahkan mas kahwin dan hantaran, kedua-dua belanja yang berkait langsung dengan aqad nikah dianggap relevan dalam erti hadis di atas. Manakala kenduri pula adalah sesuatu yang terasing. 2. Saudara memberitahu bahawa kedua-dua keluarga telah bersetuju secara ala kadar bagi meraih keberkatan, maka sewajarnya saudara dan keluarga berterus terang dengan bakal pasangan berkenaan luar jangkaannya nilai hantaran yang mereka harapkan. Itu adalah amat penting berbanding menjatuhkan diri dalam hutang untuk berkahwin yang merupakan satu cara yang tidak sihat dari sudut perancangan kewangan. 3. Secara asasnya, tidak ada salahnya meminjam untuk membeli emas bagi tujuan simpanan masa hadapan, pelaburan jangka panjang atau sebagai hantaran, namun ia menjadi SALAH dan DOSA BESAR jika pinjaman dibuat dari bank konvensional secara riba yang dikenakan ‘interest’, atau membeli emas itu secara bertangguh bayarannya. Namun jika saudara membuat ‘pembiayaan peribadi’ dari institusi kewangan Islam untuk memperolehi tunai bagi tujuan perkahwinan, ia tiada masalah dari sudut hukum dan telah disahkan patuh hukum Shariah oleh ulama yang berwibawa dan menyelia institusi terbabit, cuma ia tidak digalakkan sahaja dari sudut perancangan kewangan kerana boleh membawa masalah bebanan hutang di kemudian hari. Sekian... :)

Thursday, March 15, 2012

TUHAN, TERIMALAH CINTAKU

Dengan nama Tuhan yang memegang hati-hati makhlukNya,

Dengan nama Tuhan yang kasih-sayangNya melebihi segala apa yang berada di langit, di bumi dan apa yang ada di antara keduanya .

Dengan nama Tuhan yang menghidupkan dan mematikan setiap jiwa yang bernafas di atas muka bumi ini,

Dengan nama Tuhan yang mewujudkan segala perasaan dalam hati setiap hambaNya,

Sesungguhnya, tiadalah siapa yang berhak disembah, dipuja, dicintai, dirindui melainkan Dia, Allah Tuhanku dan Tuhanmu.

Allah, Tuhan yang menghadirkan perasaan cinta dalam hati manusia. Tiadalah diciptakan sesuatu perkara itu melainkan perkara itu memberi manfaat kepada hambaNya.

FirmanNya:
'Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaannya dan rahmatNya, bahawa Ia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya, dan dijadikanNya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir.'


Dengan cintaNya, udara masih lagi dapat dihirup,
Dengan cintaNya, bumi ini masih beredar mengikut aturannya,
Dengan cintaNya, angin masih lagi bertiup menyapa dedaunan yang menghijau,
Dengan cintaNya, biasan cahaya mentari masih lagi menerpa hangat tubuh hambaNya,
Dan dengan cintaNya juga, manusia saling mencintai dan merindui antara satu sama lain.

Bukankah cinta itu anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada makhlukNya?

Kerana cinta yang diberiNya, seorang ibu sanggup bergadai nyawa demi melahirkan buah hatinya?
Kerana cinta yang diberiNya, seorang guru sanggup berkorban masa demi mengajar anak muridnya?
Kerana cinta yang diberiNya, seorang sahabat sanggup menangis bersama di kala ujian menimpa?
Kerana cinta yang diberiNya, seorang kekasih sanggup setia menunggu bidadarinya yang tidak kunjung tiba?

Bukankah semua itu terjadi hanya kerana cinta yang diberiNya?
Jadi, salahkah seorang hamba itu bercinta?
Jika cinta itu dapat menghadirkan rasa rindu si hamba pada sang Pencipta cinta?

Allahu.

Mengapa perlu hadir dalam hati ini rasa cemburu pada mereka yang dapat merebut cinta makhlukMu?
Sedangkan pada saat mereka berjaya merebut cintaMu, diriku hanya kaku tanpa perasaan?
Tidak layakkah diriku ini untuk mencintaiMu Tuhanku?

Tuhanku, diriku tahu langkah kakiku ini begitu perlahan,
Di saat mereka berlari dan terus berlari menuju cintaMu,
Aku masih lagi merangkak, dan kadang-kadang terpaksa berhenti.
Aku terlalu alpa mengejar cinta dunia, cinta makhlukMu yang tak abadi.

Tuhanku, aku insan lemah,
Aku sering tergoda dengan cinta makhlukMu,
Aku selalu lupa akan janjiku untuk mencintaiMu melebihi segalanya,
Masih lagi ada rasa cemburuku pada cinta makhlukMu,
Hinakah aku Tuhanku?

Tuhanku, tiada daya lagi dalam diriku untuk mengejar cinta makhlukMu,
Cukuplah padaMu saja aku serahkan hidup dan matiku,
Cukuplah padaMu saja aku serahkan urusan hidupku,
Tiadalah lagi kuberharap melainkan hanya padaMu.

Tuhanku, tidak mahu lagi aku berpaling kebelakang,
Aku mahu terus berlari dan berlari menuju cintaMu,
Jika ada cinta makhlukMu untukku, akan ku terima seikhlas hatiku
Namun kini, hanya cintaMu yang kudambakan,
Sudikah Kau menerima cintaku Tuhanku?

- Artikel iluvislam.com

Tuesday, February 28, 2012

MENUTUP AURAT BUKAN MEMBALUT AURAT





Islam telah menetapkan supaya wanita berpakaian longgar dengan warna yang tidak menarik serta menutup seluruh badannya dari kepala hingga ke kaki (kecuali muka dan tapak tangan). Kalau dibuat perbandingan dari segi harta dunia seperti intan dan berlian, ianya dibungkus dengan rapi dan disimpan pula di dalam peti besi yang berkunci. Begitu juga diumpamakan dengan wanita, kerana wanita yang bermaruah tidak akan mempamerkan tubuh badan di khalayak umum. Mereka masih boleh tampil di hadapan masyarakat bersesuaian dengan garisan syarak.


PAKAIAN DALAM ISLAM
Pakaian itu hendaklah longgar, tidak sempit atau ketat hingga menampakkan susuk tubuh badan Usamah bin Zaid pernah menceritakan bahawa rasulullah s.a.w telah menerima hadiah sejenis kain Qibtiah yang kurang tebal daripada seorang yang bernama Dahiyah Al-Albi dan rasulullah s.a.w pula menghadiahkan kain tersebut kepada beliau (Usamah bin Zaid) , untuk dibuat pakaian tetapi Usamah memberikan kepada isterinya.

Suatu hari rasulullah s.a.w bertanyakan Usamah : “Kenapa engkau tidak memakai kain Qibtiah itu?” Usamah menjawab :” Saya telah berikan kepada isteri saya”. Lalu rasulullah s.a.w bersabda kepada Usamah :” Suruhlah isterimu mengalaskan kain tersebut dengan kain yang lain di bawahnya, kerana aku bimbang jika kain Qibtiah itu tidak digalas, maka akan kelihatanlah besar kecil tulang-tulang badan isterimu (bentuk tubuh badan isterimu)”.

Followers

Popular Posts